
BETANG: Menjaga Budaya Dayak Ngaju Tetap Hidup di Generasi Muda
PALANGKA RAYA - Di tengah arus modernisasi, SDN 8 Palangka menghadirkan inovasi BETANG (Belajar Etika Tradisi Anak Ngaju Gemilang) untuk menjaga bahasa dan budaya Dayak Ngaju tetap dekat dengan kehidupan anak-anak.
Nama BETANG terinspirasi dari rumah panjang masyarakat Dayak yang melambangkan kebersamaan, tempat belajar, dan pewarisan nilai-nilai luhur. Semangat tersebut diterapkan dalam pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan dekat dengan dunia anak.
Melalui empat kegiatan utama—menulis, mendongeng, menari, dan menggambar—siswa diajak mengenal sekaligus mengekspresikan budaya Dayak Ngaju. Mereka menulis cerita rakyat dan puisi dalam bahasa Dayak Ngaju, mendongeng tradisi secara lisan, mempraktikkan tarian adat, serta menggambar motif etnik Dayak yang dipadukan dengan karakter anime yang mereka sukai.
BETANG tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya. Program ini juga menjadi sarana mengembangkan literasi, kreativitas, karakter, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis. Guru, orang tua, tokoh adat, komunitas budaya, dan pegiat literasi dilibatkan sebagai mitra.
Hasilnya mulai terlihat. Siswa menghasilkan buku puisi dan cerita, kamus mini, karya seni, pertunjukan tari dan dongeng, serta karya yang dipamerkan melalui galeri sekolah dan website. Prestasi juga diraih, antara lain Juara 2 Festival Tunas Bahasa Ibu dan menjadi finalis lomba menulis cerita fabel berbahasa Dayak Ngaju.
Siswa BETANG juga tampil dalam berbagai kegiatan, termasuk Gelar Karya P5 di halaman Kantor Wali Kota Palangka Raya.
Melalui BETANG, SDN 8 Palangka membuktikan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya Dayak Ngaju dapat menjadi sumber kreativitas dan inspirasi bagi masa depan—dengan anak-anak sebagai generasi penerusnya.
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya